Selimut Kabut 01

By 6:52 PM

Oleh : Agung Bawantara

http://desktop.freewallpaper4.me
Tentu kau punya identitas. Setiap orang membawanya ke mana pun sejak keberangkatan pertama. Ia tergurat di setiap buku-buku dan tak menipu. Identitas adalah penanda untuk menakar setiap makna yang lahir dari dengus, kedipan mata, keluh, peluh, tawa, tangis, langkah, dan seluruh gerak diri, bahkan hingga yang hanya semikro mili pun. Yang menarik, di luar pengetahuanmu, identitas secara tertib mencatatkan diri. Petugas yang mencatat dan menghidung dengan sangat presisi itu  punya banyak nama. Agar mudah, kau bisa menamainya Malaikat Matematika atau Malaikat Pengingat, atau apa saja  yang menurutmu puitis  dan membuatmu nyaman.
Jadi, tak perlu merendah atau meninggi. Tak perlu pula  merasa kecil atau besar. Setiap perubahanmu langsung tercatat ketat tanpa  bisa kau ganti atau kau mungkiri.

Bergeraklah sesuka hati. Sebebas-bebasnya. Seyakin-yakinnya. Batasnya, orang lain yang juga bergerak sesuka hati mereka. Inilah lucunya, kebebasan dibatasi oleh kebebasan. Kebebasanmu dibatasi oleh kebebasan orang lain. Kebebasan orang lain dibatasi pula oleh kebebasan orang lainnya lagi, termasuk oleh kebebasanmu. Alam sungguh jenaka.

Maka belajarlah pada bintang-bintang yang bergerak di denyut semesta. Di mana setiap bintang menggembala sejumlah planet yang berupacara di orbitnya masing-masing. Sesekali satu planet terantuk serpihan planet lain. Sesekali pula ia mengantuk planet lain akibat kelalaian melepas serpihan diri sendiri.

Lalu, ini pesan dari seorang pengembara: di ruang-ruang hampa antara kebebasanmu dan kebebasan siapa saja, belitkanlah selimut kabut. Selimut dari partikel-partikel cinta yang segera memberi tanda ketika ada sesuatu hendak mendekat. Selimut dari molekul-molekul kasih yang segera memberi kabar jika sesuatu akan menjauh. Selimut pintalan batin yang menyamarkan pandangan namun selalu memberi pesan pada siapa pun bahwa sebagai sesuatu kau ada. Sehingga tak siapa pun  berani ceroboh mengayun langkah, dan kalian tak bertumbukan.  

Kau mungkin tampak dungu di tengah belitan selimut ini.  Sebab semakin tebal selimut itu, semakin pudar cahyamu di retina siapa saja.  Timbang-timbanglah sebelum kau mengenakannya.

Anda Perlu Membaca Tulisan Ini

0 comments