T-Rex dan Brontosaurus di Kelir Dalang Wija

By 8:08 PM




Dongeng binatang atau fabel umumnya dibacakan untuk meninabobokan anak menjelang tidur. Tapi di Bali, dalang kondang I Wayan Wija dari Banjar Babakan Sukawati, Gianyar, Bali, mengangkat dongeng-dongeng buaian menjadi kisah-kisah dalam pewayangannya. Kisah yang kerap dia angkat adalah kisah-kisah binatang dari kitab Tantri Kamandaka, sehingga wayangnya dikenal dengan sebutan Wayang Tantri.

Sebelum Wija, Kisah Tantri  pernah dipentaskan oleh Dalang I Made Persib pada Festival Seni Institut Kesenian Indonesia (IKI) 1981 di Bandung. Saat itu Persib adalah mahasiswa Jurusan Seni Pedalangan pada Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI), Denpasar.  Lakon yang dimainkan Persib ketika itu adalah Pedanda Baka atau Cangak Maketu.

Dua tahun kemudian, dengan penafsiran dan penggarapan yang lebih kaya variasi plus ketrampilan teknik mendalang yang lebih matang, Wija mementaskan Wayang Tantri versi baru dengan iringan gamelan Semar Pagulingan berlaras pelog.

Dalam memainkan wayangnya, Wija dibantu dua orang asisten untuk menggerakkan wayang dalam adegan-adegan tertentu sehingga memunculkan kesan dramatis.Belakangan, Wija tidak hanya memainkan kisah-kisah Tanti Kamandaka saja, ia juga kerap mementaskan fabel-fabel dari negara lain. Tokoh-tokoh yang muncul di kelir (layar) Wija tidak hanya binatang-binatang yang kita kenal sekarang, juga binatang-binatang purba seperti bronotosaurus, T-Rex, dan jenis-jenis dinosaurus lainnya.

Tidak hanya di Bali, di Kota Tegal, Jawa Tengah, juga ada seorang dalang yang dalam setiap pertunjukannya kisah-kisah dongeng. Dwiyanto, nama dalang itu.


Setiap pentas, Dwiyanto membawakan beberapa kisah bintang yang sebagian besar adalah dongeng-dongeng dari Nusantara.  Yang paling kerap ia mainkan adalah serial lima kisah si Kancil (Si Kancil Mencuri Ketimun, Si Kancil Adu Lari dengan Keong, Si Kancil Lawan Anjing, Si Kancil Memperdaya Buaya, Si Kancil Mengakali Harimau) yang sangat terkenal itu.

Tentang cerita binatang, baik Wija maupun Dwiyanto, menyepakati bahwa kisah binatang atau fabel itu sejatinya merupakan metafora dari perilaku dan sifat manusia. Dipaparkan melalui kisah binatang dengan maksud agar pesan-pesan moral tentang sikap dan perilaku itu menyusup  di saat anak asyik mengembara dalam fantasi dan imajinasinya.[]

Sumber foto:  jenggala.com dan infotegal.com

Anda Perlu Membaca Tulisan Ini

0 comments