Rare dan Perkemahan Para Peri

By 7:06 PM ,

Rare tertunduk lesu menyaksikan ke berangkatan teman-temannya ke perkemahan. Ia mengintip rombongan yang riang-gembira itu dari celah jendela kamarnya. Para peri itu terbang sambil bernyanyi senang. Semua membawa perlengkapan berkemah di punggung dan pinggang. Sebagian terlihat juga menjinjing barang yang tak dapat diletakkan di kedua bagian tubuh mereka tadi.

Ini adalah hari berkemah di sekolah peri. Peristiwa mengasyikkan yang paling ditunggu-tunggu seluruh murid-murid peri. Dalam acara tersebut mereka merasai berbagai peristiwa menyenangkan: bermain, bertualang,  memasak, serta bernyanyi dan menari bersama  mengitari unggun api, lalu tidur berkelompok di bawah tenda-tenda.

Ini sudah yang ketiga kalinya Rare tak mengikuti acara perkemahan. Selalu saja ia sedang sakit setiap kali acara perkemahan dilangsungkan. Ketidaksertaannya yang pertama karena sakit perut. Yang kedua, karena pusing. Sekarang, yang  ketiga, ia sedang sakit gigi. Semua teman karibnya menyayangkan hal itu. Mereka ingin Rare ikut bergembira bersama. Tapi apa boleh buat? Sakit sering datang pada saat-saat penting.

Begitu sosok teman-temannya hilang di kelokan jalan, Rare berlari ke tempat tidurnya. Di situ ia menelungkup dan menangis. Melihat itu ibunya mendekat dan mengusap kepala Rare. Ibu tahu apa alasan sesungguhnya kenapa Rare tak ikut berkemah.

“Seandainya kau bisa mengendalikan tubuh agar tidak mengompol lagi, tentu saat ini kau bergembira bersama mereka,” ucapnya lembut.

“Aku telah berusaha untuk tidak ngompol, tapi selalu gagal!” isak Rare.

“Ya, ibu tahu kau telah berusaha keras. Bagaimana kalau sekarang kau ubah usahamu?”

Rare tak menjawab. Tapi isaknya yang seketika mereda seperti memberi isyarat bahwa ia ingin tahu apa saran Ibu selanjutnya.

“Kalau kau selalu gagal untuk tidak mengompol lagi, sekarang cobalah berusaha agar kasurmu tetap kering saat kau bangun pagi.”

Rare mendongak. Dipandanginya Ibu dengan tatapan ingin tahu. 

“Ibu rasa ini jauh lebih mudah dan menyenangkan bagimu,” lanjut Ibu.

Setelah itu Ibu mengingatkan pengalaman menarik yang pernah Rare alami di kebun bunga Kakek Peri beberapa bulan lalu. Saat itu Rare menyiram kebun dengan slang ajaib milik Kakek. Begitu Rare mengalirkan air melalui slang itu ke arah tanaman, seketika daun-daun berubah menjadi lebih hijau. Segar sekali. Bunga-bunga pun langsung bermunculan dari tangkainya. Tapi ketika Rare lengah dan air muncrat ke luar kebun, banjir pun tiba-tiba datang merendam jalanan rumah-rumah di sekitar situ. Tak ayal para peri tentangga Kakek marah karenanya. Beruntung Kakek segera datang dan mengendalikan keadaan.

“Ini slang ajaib. Kau harus tepat menggunakannya,” ucap Kakek kepada Rare setelah ia minta maaf kepada para tetangga.

“Begitu terciprat ke tempat yang tak kau maksudkan, air dari slang ajaib ini akan berlimpah ribuan kali. Kau harus segera mengendalikannya.”

“Tadi sudah kucoba, tapi tak bisa.”

“Kau terlalu sibuk mengendalikan ujung slang yang membanjiri jalan. Mestinya kau tutup kran yang mengalirkan air ke slang itu.”

Rare termangu mendengar ucapan Kakek.

“Ya, begitu kau tutup sumbernya, maka ujung saluran akan kering dengan sendirinya. Setelah itu tinggal kau arahkan ke tempat yang tepat dan kau alirkan lagi air itu dari sumbernya. Sangat mudah.”

Rare mengingat dengan baik peristiwa itu. Bahkan hingga kejadian-kejadian detilnya. Kini menjelang tidur ia membayangkan kran di tubuhnya selalu tertutup rapat dan ada petugas yang selalu menjaganya. Si Petugas hanya membuka kran jika salurannya mengarah ke tempat yang tepat.[]

~ o ~
    CATATAN BAGI ORANGTUA
  • Dongeng ini ditulis Agung Bawantara untuk membantu menangani anak yang gemar menunda.
  • Setelah bercerita, jangan menyimpulkan. Biarkan anak mencerna sendiri isi dan moral cerita.
  • Upayakan anak tak merasa dirinya disindir oleh cerita.
  • Perlambat membaca dan beri tekanan yang lebih tegas pada kalimat yang diberi high light. Bila perlu diulang. Ingat, jangan sampai si anak merasa sengaja disindir dengan kalimat itu. 

Anda Perlu Membaca Tulisan Ini

0 comments