Gajah, Kancil, dan Burung Pipit


 Dongeng oleh Agung Bawantara


Di tengah hutan yang luas, hiduplah tiga sahabat: Gajah, Kancil, dan Burung Pipit. Mereka sering duduk di bawah pohon besar di tepi sungai, berbincang tentang kehidupan. Gajah adalah yang terbesar di antara mereka, Kancil yang paling cerdik, dan Burung Pipit yang paling ringan gerak-geriknya. Mereka selalu bersama.


Namun, suatu hari, bencana kekeringan melanda hutan. Sungai yang biasanya jernih, kini mengering hingga ke dasar. Daun-daun pohon berguguran, buah-buahan menghilang. Semua penghuni hutan mulai ketakutan. Gajah dengan tubuh besarnya berusaha menggali sumur, tapi air yang didapat hanya cukup untuk dirinya sendiri. Kancil dengan kecerdasannya mampu menemukan makanan yang tersembunyi, namun menyimpannya dalam lubang rahasia di bawah tanah. Sementara itu, Burung Pipit hanya punya sayap kecil yang bisa membawanya ke berbagai tempat, mencari sedikit air dan benih.


Hari-hari semakin panas, dan makanan makin sulit didapat. Pada suatu sore, ketiganya berkumpul lagi di bawah pohon yang semakin meranggas. "Aku mulai kehabisan akal," kata Gajah. "Tak ada air lagi yang bisa kutemukan, dan sumur yang kugali semakin kering."


Kancil menggelengkan kepala, "Aku juga mulai kehabisan persediaan makanan. Sepertinya kekeringan ini akan bertahan lebih lama dari yang kita kira."


Burung Pipit terbang rendah, mendarat di sebuah ranting kering, dan berkata pelan, "Mungkin kita memang bisa bertahan dengan apa yang kita kumpulkan sendiri, tapi apakah itu cukup? Kita hidup dari apa yang kita dapatkan, tapi kita menciptakan kehidupan dari apa yang kita berikan."


Gajah mengernyit. Kancil menatap Burung Pipit. Tak ada yang bicara lebih lanjut malam itu.


Keesokan harinya, Gajah bangun lebih awal. Ia memutuskan untuk menggunakan kekuatannya bukan hanya untuk dirinya sendiri. Dengan belalainya yang panjang, ia menggali lebih dalam di sungai yang kering. Tak lama, air mulai mengalir, sedikit demi sedikit. Gajah memanggil binatang-binatang lain untuk minum bersama. Kancil, yang biasanya menyembunyikan makanan, kini mulai membagikan buah-buahan yang ia temukan kepada binatang-binatang yang kelaparan. Burung Pipit tak berhenti terbang, membawa benih-benih dari satu tempat ke tempat lain, menanamnya di sudut-sudut yang terlupakan di hutan.


Waktu berjalan, hutan masih kering, tapi kehidupan tetap berlanjut. Gajah tak lagi merasa kelelahan sendiri. Kancil tak lagi gelisah memikirkan persediaan makanan untuk dirinya sendiri. Mereka bekerja bersama. Binatang-binatang lain pun ikut membantu, mengikuti contoh mereka.


Ketika musim hujan akhirnya tiba, binatang-binatang itu mulai bernapas lega. Tanah kembali subur, daun-daun tumbuh hijau, buah-buahan bermunculan. Benih-benih yang selama ini disebar di mana-mana oleh Burung Pipit dibantu hewan-hewan lainnya, mulai tumbuh. Hutan itu menjadi makin hijau dan penuh persediaan makanan. Mata air ada di mana-mana karena akar-akar pohon menahan air hujan untuk bertahan lebih lama di dalam tanah sebelum akhirnya menyembul dan mengalir ke hilir.[]